Selasa, 08 Februari 2011

Hard Skills dan Soft Skills

Oleh: Rudy Kustijono
Abad XXI dikenal dengan abad pengetahuan. Para peramal masa depan (futurist) mengatakan sebagai abad pengetahuan karena pengetahuan akan menjadi landasan utama segala aspek kehidupan (Trilling dan Hood, 1999). Ia mengemukakan bahwa perhatian utama pendidikan di abad XXI adalah untuk mempersiapkan hidup dan kerja bagi masyarakat. Dalam rangka mewujudkan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa, kemendiknas mempunyai visi 2025 untuk menghasilkan Insan Indonesia Cerdas Komprehensif dan Kompetitif (Insan Kamil/Insan Paripurna). 
Yang dimaksud dengan insan Indonesia cerdas adalah insan yang cerdas komprehensif, yaitu cerdas spiritual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual, dan cerdas kinestetis (Renstra Kemendiknas 2010-2014). Visi tersebut sangat tepat dalam mengantisipasi perubahan paragdima pendidikan abad XIX yang menurut Badan Standar Nasional Pendidikan, salah satu karakteristik abad XXI adalah (BSNP, 2010): Ilmu pengetahuan akan semakin converging, berikut implikasinya, terutama terhadap: penelitian, filsafat ilmu, paradigma pendidikan, dan kurikulum. Lulusan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, atau seni pada bidang tertentu, tetapi juga menguasai keterampilan tambahan seperti, kemampuan berkomunikasi secara efektif, kemampuan berfikir logis, kemampuan belajar, dan lain-lain. Kemampuan-kemampuan tambahan ini disebut soft skills (HELTS 2003-2010). Persyaratan kerja tidak hanya menekankan pada kualitas lulusan yang hanya menekankan pada penguasaan hard skills (kemampuan teknis dan akademis) saja akan tetapi juga penguasaan soft skills. Di dalam usaha pemenuhan kebutuhan industri kerja tersebut, tentu akan berakibat pada perubahan paradigma (pola pikir) dalam proses pembelajaran. Perubahan pola pikir yang dapat memenuhi proses pembelajaran yang dapat menghasilkan mutu lulusan sebagaimana yang diharapkan oleh pasar kerja akan menuntut para lulusan mampu meresapi arti dari kompetensi dalam pedidikan yaitu kognitif, psikomotorik dan afektif (Direktorat Akademik Dirjen Dikti, 2008).
Selama ini disinyalir telah terjadi kesenjangan antara dunia pendidikan tinggi dan dunia kerja. Perguruan tinggi memandang lulusan yang mempunyai kompetensi tinggi adalah mereka yang lulus dengan nilai tinggi. Sedangkan dunia kerja menganggap bahwa lulusan yang high competence adalah mereka yang mempunyai kemampuan teknis dan sikap yang baik. Kemampuan teknis adalah hard skill yang dipelajari di kelas dan di laboratorium, mereka yang belajar dengan rajin, giat, dan tekun akan memperoleh kemampuan teknis yang baik, dicerminkan salah satunya dengan nilai yang tinggi. Contohnya adalah kemampuan membuat program, perusahaan dapat dengan segera melihat apakah seorang calon karyawan benar-benar dapat membuat program pada saat diuji. Masalahnya, mempunyai kemampuan teknis yang tinggi saja dianggap tidak cukup. Banyak kalangan industri yang mengeluhkan bahwa lulusan sekarang banyak yang kurang memiliki sikap yang baik, misalnya, tidak dapat memenuhi kontrak kerja, tidak dapat menentukan gaji pertama mereka sendiri tetapi setelah dua bulan bekerja mereka mengeluh tentang gaji yang rendah, kurang dapat bekerja sama, tidak punya leadership, integritas pribadi dipertanyakan, etika kurang, dan sebagainya yang kesemuanya tidak dapat ditelusuri dari nilai yang tinggi dan kelulusan yang tepat waktu semata (Anwar Holil, 2009). Mahasiswa sebagai aset bangsa di masa mendatang yang setelah lulus akan terjun di masyarakat harus mempunyai bekal tidak hanya kecakapan pengetahuan dan keterampilan (hard skills) saja, tetapi harus mampu memecahkan masalah, selalu berpikir kritis, dapat bekerjasama, mempunyai kepekaan, berjiwa kepemimpinan, cermat dalam mengambil keputusan dll, yang dikenal dengan soft skills.
Hard skills menggambarkan  perilaku  dan  keterampilan  yang dapat  dilihat  mata  (eksplisit).  Hard skills adalah  kemampuan yang  dapat  menghasilkan  sesuatu  yang sifatnya  visible  dan immediate. Hard skills adalah semua hal yang berhubungan dengan pengayaan teori yang menjadi dasar pijakan analisis atau sebuah keputusan (Fachrunnisa, 2006). Hard Skills adalah keterampilan yang nyata, terukur, analitis, dengan hak yang jelas yaitu apa yang kebanyakan orang menganggapnya sebagai tulang punggung keberhasilan. Contoh yang termasuk hard skills adalah matematika, kemampuan ilmu pengetahuan, seperti rekayasa dan karya ilmiah, akuntansi, pemrograman, keterampilan teknis, dan keterampilan administratif. (Richards Jan, 2011)
Hard skills  tersebut   didapa mahasisw melalui   matakuliah-matakulia yang  diambil   sesuai dengan fakultas dan jurusannya masing-masing.  Hard skills  dapat  dinilai  dari  technical  test  atau  practical  test. Elemen-elemen (atribut-atribut) hard skills dapat terlihat dari intelligence quotient thinking (IQ) yang  mempunyai  indikator  kemampuan  menghitung,  menganalisa,  mendesain, wawasan  dan pengetahuan yang luas, membuat model, dll (Santoso dkk, 2005). Jadi hard skills adalah kecakapan teknis atau kecakapan praktis, seperti kecakapan bidang keuangan, kecakapan bidang komputer kecakapan bidang teknik, dan lain-lain.
Soft skills menurut Berthal : “ Personal and interpersonal behaviors that develop and maximize human performance (e.g. coaching, team building, decision making, initiative). Soft skills do not include technical skills, such as financial, computer or assembly skills“ (dikutip Made Tirta dan Illah Sailah, 2009). Soft skills adalah “perilaku personal dan interpersonal yang mengembangkan dan memaksimalkan kinerja humanis”. Soft skills sering  juga  disebut  kecakapan  lunak  yaitu  kecakapan  yang  digunakan dalam  berhubungan  dan  bekerjasama  dengan  orang  lain.  Soft skills merupakan kecakapan dalam  mengendalikan kepribadian (personal driven) seperti etika, kecakapan dalam bergaul dengan orang lain, mendengarkan dan terlibat dalam pembicaraan (http://www.investopedia.com). Contoh lain dari kecakapan-kecakapan yang dimasukkan dalam kategori soft skills  adalah  profesionalisme,  kepemimpinan,  kreativitas,  kerjasama,  inisiatif, fasilitating kelompok maupun masyarakat, komunikasi, berpikir kritis, dan problem solving. 
Atribut-atribut soft skills sangat banyak ragamnya, misalnya NACE (National Association of College and Employee) USA menetapkan 20 atribut soft skills, sedangkan Patrick S. O'Brien dalam bukunya Making College Count, soft skill dapat dikategorikan ke dalam 7 area yang disebut Winning Characteristics. yaitu, communication skills, organizational skills, leadership, logic, effort, group skills, dan ethics. Kemampuan non teknis yang tidak terlihat wujudnya (intangible) namun sangat diperlukan itu, disebut soft skills (Dewi Irma, 2009).
Banyak para ahli yang melakukan penelitian tentang atribut-atribut soft skills diantaranya Theresa Kane (2003) yang menyatakan bahwa para pimpinan perusahaan menginginkan para pekerja mempunyai kecakapan-kecakapan seperti: kecakapan sosial, kecakapan menjalin hubungan antar pribadi, kesadaran diri, dan kecakapan pengendalian emosi. Para pemimpin perusahaan dan para penyedia kerja menganggap bahwa kecakapan-kecakapan  tersebut lebih mendukung sukses mereka dalam jangka panjang dibanding kecakapan teknis spesifik (Bynner 1997). Sementara itu Robert E.Kelley (1999), pengarang dari "How to Be a Star Performer at Work" mengidentifikasi beberapa strategi untuk mencapai karir sukses yang mengarah pada soft sklis. Atribut-atribut penting lain adalah kemampuan beradaptasi, belajar berkelanjutan, mengatur keanekaragaman dan kesadaran keanekaragaman budaya, kecerdasan emosional (kemampuan untuk memberi dan menerima umpan balik). Barbara Dwyer (2009) memberikan gambaran 10 kecakapan utama yang dimiliki karyawan yang diminati oleh perusahaan yaitu:
  • Communications Skills.
  • Decision Making Skills.
  • Computer/Technical Skills.
  • Flexibility/Adaptability/Managing Multiple Priorities.
  • Interpersonal/Employee Relations Skills.
  • Leadership/Management Skills.
  • Multicultural Sensitivity/Awareness.
  • Planning/Organizing Skills.
  • Creativity Skills.
  • Teamwork Skills.
Illah Sailah (2009) memberikan 10 atribut soft skills yang diperluas oleh Widji Soeratri (2009) menjadi 14 atribut yang memberikan alternatif yang memungkinkan dapat dipadukan dalam pembelajaran sebagai berikut:
  • Komitmen
  • Inisiatif
  • Kemampuan untuk belajar
  • Handal
  • Percaya diri
  • Kemampuan berkomunikasi
  • Antusias
  • Berani mengambil keputusan
  • Integritas
  • Motivasi untuk meraih prestasi/ Gigih
  • Berkreasi
  • Kerjasama  dalam tim
  • Berfikir kritis
  • Menghargai (pendapat) orang lain
Dengan bekal kecakapan yang berimbang antara hard skills dan soft skills, mahasiswa setelah lulus diharapkan mampu berperan maksimal baik dalam lingkup kerjanya maupun di masyarakat luas.

5 komentar:

  1. Memang benar apa yang dipaparkan dalam artikel diatas, bahwa soft skill juga sangat penting untuk menunjang hardskill yang kita miliki. mengapa demikian??menurut saya,Dunia kerja pada saat ini percaya bahwa sumber daya manusia yang unggul adalah mereka yang tidak hanya memiliki kemahiran hard skill saja tetapi juga piawai dalam aspek soft skillnya. Dunia pendidikanpun mengungkapkan bahwa berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill dan sisanya 80% oleh soft skill.tidak semua orang mempunyai keduanya (softskill dan hardskill)
    Umumnya kelemahan dibidang soft skill berupa karakter yang melekat pada diri seseorang. Butuh usaha keras untuk mengubahnya. Namun demikian soft skill bukan sesuatu yang stagnan. Kemampuan ini bisa diasah dan ditingkatkan seiring dengan pengalaman kerja. Ada banyak cara meningkatkan soft skill. Salah satunya melalui learning by doing. Selain itu soft skill juga bisa diasah dan ditingkatkan dengan cara mengikuti pelatihan-pelatihan maupun seminar-seminar manajemen. Meskipun, satu cara ampuh untuk meningkatkan soft skill adalah dengan berinteraksi dan melakukan aktivitas dengan orang lain.

    BalasHapus
  2. Benar sekali apa yang telah dipaparkan pada artikel ini. Di mana semua orang harus memiliki hard skill dan soft skill secara seimbang. Karena dalam menjalani hidup yang penuh perjuangan ini tidak hanya dibutuhkan salah satu dari kedua kememuan tersebut. Namun keduanya harus seimbang agar kita dapat bersaing secara sehat dengan yang lain dalam kehidupan ini. Melihat kehidupan sekarang yang semakin maju dan iptek yang semakin canggih maka diperlukan hard skill dan soft skill yang cukup ubtuk menghadapinya. Jadi nantinya kita tidak akan kalah saing dengan yang lain. Dan tetap bisa menjalani kehidupan ini dengan lancar.
    Kemampuan yang paling dibutuhkan disini adalah soft skill dimana sepwerti yang telah disebutkan pada komentar sebelumnya bahwa 80% dari kesuksesan itu dari soft skill yang dimiliki seseorang. Jadi kita harus benar-benar melatih soft skill kita untuk terjun dalam dunia masyarakat.

    BalasHapus
  3. Memang benar apa yang di katakan teman-teman, bahwasanya tidak hanya hard skill saja yang kita perlukan melainkan juga soft skill. Adakalanya seseorang lulus dengan IPK 3.5 keatas belom bisa mengantarkan dia untuk menuju gerbang kesuksesan. Hal mungkin terjadi karena dia belum memiliki soft skill yang juga ikut berpengaruh dalam perkembangan otak kita. Memang benar dia pintar dalam berpikir hingga mendapatkan IPK 3.5 keatas tapi dia belum memiliki kemampuan berkomunikasi yang beik, mandiri dan bisa diajak bekerja sama dalam satu tim. Sehingga usaha dia dalam memperjuangkan nilai juga terbuang sis-sia karena dia melupakan aspek lain yaitu hard skill.
    Tidak dapat dipungkiri bahwa keseimbangan dari pertumbuhan hardskill dan softskill akan membuat kita mengalami sukses lebih cepat dan lebih jauh dari kesuksesan yang hanya ditunjang oleh salah satu faktor tersebut. Perpaduan antara hardskill dan softskill sangat diperlukan untuk meraih jenjang karir yang tinggi atau memperluas bisnis di masa depan.

    BalasHapus
  4. menurut saya soft skill merupakan kemauan dan hard skill merupakan kemampuan. ketika kita memiliki kemampuan namun kita tidak memiliki kemauan maka akan sama saja dengan bohong...
    saat ini di Indonesia dibutuhkan orang yang bisa bekerja sama bukan orang yang bisa bekerja bersama-sama artinya apa???
    ketika kitahanya mampu kerja bersama maka ketika kita bekerja sendiri kita akan mengalami kesulitan berbeda ketika kita bisa bekerja sama maka sendiripun kita tidak akan mengalami kendala....

    BalasHapus
  5. menambahkan Secara garis besar soft skill bisa digolongkan ke dalam dua kategori : intrapersonal dan interpersonal skill. Intrapersonal skill mencakup : self awareness (self confident, self assessment, trait & preference, emotional awareness) dan self skill ( improvement, self control, trust, worthiness, time/source management, proactivity, conscience). Sedangkan interpersonal skill mencakup social awareness (political awareness, developing others, leveraging diversity, service orientation, empathy dan social skill (leadership,influence, communication, conflict management, cooperation, team work, synergy) selain itu, kesinambungan antara soft skills dan hard skills sangat diperlukan dalam menghadapi dunia kerja meskipun peranan soft skills jauh lebih besar dibandingkan dengan hard skills. karena dapat dibuktikan dalam sebuah penelitian bahwa kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill dan sisanya 80% oleh soft skill.

    BalasHapus